Selasa, Januari 07, 2014

Rahasia Ka'bah




 

Read More..

Kamis, Agustus 09, 2012

Subhanallah, Makkah Masa Depan


Ini adalah gambaran beberapa buah mega proyek seluruh Saudi yang menelan biaya hampir SR100 Trillion (SR = Saudi Real, kalau di rupiahkan berapa ya ....).  Diantaranya adalah Proyek Hotel Mewah Abraj al-Bait berdampingan dengan Masjidil Haram, proyek penginapan (hotel mewah) serba esklusif di Jabal Khandama & Jabal Omar, proyek Makkah Metro Line, Yaitu sistem aliran keretapi super cepat yang pertama, proyek Jama’an Al Kenani yaitu hotel modern untuk j'maah di Mina seluas 20 juta meter persegi untuk menampung 10 juta ja'maah menelan belanja SR40 trillion, Proyek "Makkah Expansion & Shades" yaitu perlebaran ruang Masjidil Haram dan pembangunan payung gergasi di atasnya dan sebuah pembangunan sebuah menara paling tinggi di dunia di mana ketinggiannya menyamai 4 kali Menara KLCC.

Read More..

Senin, Desember 19, 2011

Wudhu salah satu kunci masuk surga

Setiap hari kita shalat lima waktu, setiap hari juga kita berwudhu. Sedangkan berwudhu itu sendiri merupakan kunci dari sahnya shalat. Kecuali keadaan darurat tidak ada air berwudhu memiliki tempat khusus untuk ibadah shalat. Berwudhu merupakan pembukaan menjelang shalat.

Berwudhu yang dilakukan menjelang shalat merupakan langkah yang menyempurnakan shalat.Berwudhu ternyata merupakan kunci penting untuk terlaksananya shalat wajib maupun sunat. Berwudhu perlu kesungguhan tidak hanya dalam tata cara tetapi hati dan seluruh tubuh ini menyesuaikan diri dengan ibadah shalat yang merupakan komunikasi langsung setiap Muslim dengan Allah SWT. Dr Musthafa Al Buqha dan Muhyiddin Misto menjelaskan dalam bab mengenai thaharah bahwa wudhu bisa menjadi salah satu kunci masuk surga.

Di Dalam Al Quran, tulisnya, penyebab masuknya orang-orang kafir ke neraka karena mereka tidak ikut shalat. Allah berfirman:

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat (Al Muddatstsir:43).

Maka berdasarkan ayat ini shalat merupakan penyelamat dari neraka dan menjadi kunci masuk surga. Sedangkan kunci dari shalat dan sebelum shalat itu adalah thaharah dengan berwudhu. Maka secara tidak langsung bisa dikatakan berwudhu merupakan kunci masuk surga. Dengan berwudhu yang benar maka shalat bisa terlaksana dengan baik maka mereka yang tergolong shalat yang benar akan masuk surga.

Rasulullah SAW bersabda:

Tidakkah seorang Muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian bangkit dan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya (khusyu’) melainkan wajib baginya surga (HR Muslim)

Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian mengucapkan Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga dan ia masuk dari pintu mana saja yang ia suka.

Subhanallah dengan wudhu yang benar dan senantiasa disempurnakan akan banyak sekali pahalanya. Allah menjanjikan pintu surga bagi yang berwudhu dengan sempurna apalagi dengan penghukuhan lagi dua kalimah syahadat. Syahadat itu sendiri merupakan peneguhan terus menerus bahwa seluruh hidup ini semata-mata karena Allah, seluruh perjalanan kehidupan ini mulai dari membuka mata sampai tertidur semata-mata mencari Ridha Allah.

Read More..

Infaq, Perniagaan yang Tidak Pernah Rugi

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi." (QS Fathir {35}:29)

Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia yang memulai karirnya dengan membuka sebuah bisnis makanan dan kini telah merambah seluruh tanah air dengan puluhan outlet dan cabangnya.

Dalam tempo yang tidak terlalu lama, usaha makanan lezat yang ia rintis berkembang dengan begitu menggurita. Masyarakat pun banyak menggandrungi makanan yang disajikan oleh 'brand' restoran miliknya.

Suatu saat pernah, beliau menjadi sponsor utama sebuah seminar zakat yang diadakan di kota Medan. Usai menyampaikan materi seminar, para pembicara diajak untuk menikmati santap siang di salah satu restoran milik sang pengusaha.

Ketika santap makan siang berlangsung, salah seorang pembicara menyela dengan sebuah pertanyaan kepada pemilik restoran, "Pak, boleh dong berbagi cerita kiat sukses merintis bisnis kayak begini. Sepertinya bapak gak terlalu lama membangun bisnis ini tapi kok langsung menggurita sampai seluruh tanah air. Apa sih rahasianya?" Sambil tersenyum penuh rasa syukur, pengusaha ini menjawab dengan nada yakin: "Pak Ustadz, sama seperti pengusaha lain, saya merintis ini dengan jatuh-bangun. Namun, sejak saya bertekad untuk menaikan zakat saya hingga 5% dari penghasilan. Subhanallah... Allah berkenan memberikan rezeki yang melimpah kepada saya, keluarga dan semua orang yang terlibat dalam usaha ini." Ia menambahkan, "Saya amat percaya, semakin banyak kita membantu Allah, Dia pun akan lebih banyak lagi akan memberikan balasannya kepada kita. Dan itu telah kami rasakan kebenarannya!"

Allahu Akbar... Allah Maha Besar... Dia mampu untuk memberikan balasan yang begitu berkah bagi hamba-Nya yang mau berniaga kepada-Nya.

Itu cerita dari pulau Sumatera, tepatnya di kota Medan. Lain lagi kisah seorang pengusaha berkah dari Provinsi Jawa Tengah. Banyak usaha yang ia tangani. Mulai dari percetakan, penerbitan, institusi pendidikan, pelayanan haji & umrah, yayasan-yayasan social, dan banyak lagi. Bagi saya, jumlah usaha & kegiatan yang beliau tangani sulit dihitung dengan jari. Terakhir saya dengar, beliau tengah membangun sebuah hotel syariah di bilangan kota yang cukup strategis dengan biaya miliaran rupiah. Hal yang lebih membuat kagum adalah..., semua usaha yang beliau bangun berjalan dengan lancar dan memberi hasil yang tidak sedikit.

Subhanallah..., dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, beliau amat terampil untuk mengelola semua usahanya. Saya penasaran untuk mengetahui rahasia kesuksesan di balik itu semua. Sampai pada akhirnya, salah seorang staffnya bercerita kepada saya bahwa beliau selalu menginfak-an hampir 30% dari penghasilannya di jalan Allah Swt.

Kala krisis moneter, perusahaan percetakan miliknya hampir bangkrut sama seperti usaha yang lain. Sebuah kebijakan yang ia tempuh terdengar aneh saat itu. Para karyawannya yang berjumlah ratusan, tidak ia rumahkan. Bahkan beliau tambahkan gaji mereka. Sehingga membuat karyawan tersebut senang, tidak resah dengan harga bahan pokok yang menggila pada saat itu, dan akhirnya.... mereka pun berdoa untuk kebaikan pemilik usaha. Subhanallah... siapa yang suka memberi, ia pasti akan diberi. Oleh siapa, ya... oleh Sang Maha Pemberi, Al Wahhab!

Perniagaan yang tiada merugi... itulah salah satu jaminan bagi orang yang suka berinfak.

Cobalah simak hadits 567 bab 60 dalam kitab Riyadhus ShalihinI! Di sana Nabi Saw berkisah, ada seorang petani di Madinah... ia berdiri di antara kebun kurmanya yang kering kekurangan air. Pohon tidaklah subur, sementara buah-buahan tidak muncul dengan baik. Ia khawatir, bila kekurangan air maka kebun tidak akan memberi hasil maksimal untuk kebutuhan hidup ia dan keluarga. Ia menengadah ke arah langit. Kedua tangannya, ia angkat setinggi mungkin seraya merapal lafal-lafal doa kepada Allah agar kebunnya diberi air hujan.

Tak lama sejak itu, Allah mengirimkan awan untuk berkumpul. Beriringan sedikit demi sedikit, awan berkumpul dengan cukup lebat di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan. Dalam hatinya, ia berucap... "Allah mengabulkan doa & permintaanku tadi!" Namun sebaliknya yang terjadi. Terdengar olehnya sebuah suara yang berasal dari langit dan berbunyi, "Wahai awan, pergilah ke tanah si Fulan...!"

Maka berjalanlah awan ke arah lain, ke tempat yang tidak diketahui oleh si petani yang baru saja berdoa. Kekesalan membuncah dalam batin sang petani. "Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku?" gumamnya. Ia pun penasaran. Ia berlari dan terus berlari. Mengikuti kemana awan akan berhenti dan menurunkan air yang dikandungnya.

Sampai di suatu tempat yang subur... daunnya rimbun... dan memiliki air yang banyak. Awan pun berhenti dan mencurahkan segala air yang berada di dalam perutnya. Si petani menatap keheranan..., tatkala dilihatnya ada seorang pria bersahaja yang sedang berdoa syukur kepada Tuhan karena telah memberi rahmat pada tanahnya.

Saat itu, si petani memanggil nama si pemilik tanah. Sang pemilik tanah merasa heran lalu bertanya, "Saudara, dari mana Anda tahu namaku?" "Itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya, amalan apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari suara langit yang memerintahkan awan untuk menurunkan hujan di sini..., di tanahmu!" Subhanallah! Bukankah ini sebuah prestasi hebat, hingga membuat nama seseorang disebut di langit?

Si pemilik tanah mencoba menjawab pertanyaan petani, "Saudara, belum ada orang yang aku beritahukan tentang amalan yang aku kerjakan sehingga membuahkan hasil sedemikian. Namun karena engkau telah tahu sebagian rahasia ini... dan juga karena engkau telah menanyakannya, maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi." "Ceritakanlah padaku, wahai Saudara!" gegas si Petani sebab penasaran.

"Rahasianya mungkin adalah.... Setiap kali kebun dan tanah ini memberi hasil, hanya sepertiga darinya yang aku makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan kepada tanah ini sebagai tambahan modal. Lalu sepertiganya lagi, aku berikan kepada Allah Swt sebagai infakku di jalannya. Itulah amalan rutin yang aku kerjakan sehingga membawaku pada hasil yang sedemikian."

Subhanallah....! Pemilik tanah tersebut memberikan sepertiga dari penghasilannya untuk Allah Swt. Tak pelak, Allah Swt pun memuliakannya. Saudaraku..., bila dalam merintis usaha, perniagaan, perdagangan atau apapun yang kita lakukan... bila kita sering mengalami kerugian, kebangkrutan, kredit macet dan lain sebagainya yang dapat membuat usaha kita mengalami kemunduran. Maka..., cobalah resep di atas! Insya Allah, Anda akan merasakan apa yang mereka rasakan, yaitu Perniagaan yang Tiada Merugi Disebabkan Infak di Jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selamat Mencoba!


Wassalam,

Read More..

Sabtu, September 05, 2009

Sholat Sunnah, Baca Qur'an, Dzikir, Berdoa


Tidak sedikit yang bertanya "Ngapain lagi ya". Kalimat ini sesekali menyelinap dihati kita baik saat berada di Madinah maupun di Makkah. Kalimat yang sering kali terlontar baik saat kita menunaikan rangkaian ibadah Haji/umroh maupun disaat kita berada di Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram.

Berikut tips penting yang dapat membantu :

Sangat penting bagi jamaah haji untuk membaca dan "mempelajari" berulang-ulang dengan sangat serius 3 buku hijau yang dibagikan oleh Departemen Agama RI yaitu (1). Buku Panduan Perjalanan Haji. (2). Buku Bimbingan Manasik Haji. (3). Buku Hikmah Ibadah Haji.

Mengikuti Rangkaian Manasik Haji baik yang diselenggarakan Depag maupun KBIH. Dengan membaca dan mempelajari ke tiga buku dimaksud, InsyaAllah pemahaman akan semakin baik saat melakukan Manasik Haji terlebih saat pelaksanaan Haji/Umroh.

Selalu ingat untuk melaksanakan berbagai amalan sholat sunnah baik sebelum maupun sesudah sholat Fardlu. Sholat-sholat tersebut antara lain : Sholat Sunah Tahiyyatul Masjid, Sholat Sunah Rawatib, Sholat Subnah Dhuha, Sholat Sunah Tahajjud, Sholat Sunah Taubat, Sholat Sunah Tasbih, Sholat Sunah Hajat. Selalu lakukan dan lakukan.

Selalu diusahakan untuk Baca Al-Qur'an, kalaupun belum bisa baca Al-Qur'an maka mulailah dari saat ini untuk mempelajarinya. InsyaAllah dengan adanya niat yang sangat kuat Allah SWT akan memberikan kemudahan untuk cepat bisa baca Al-Qur'an. Kalaupun belum bisa jangan sia-siakan waktu kita disana, tetaplah membaca Al-Qur'an meskipun hanya baca artinya.

Manfaatkan waktu luang dengan Berdzikir, berdoa dan Instropeksi diri. (Bawa buku-buku Dzikir dan Doa).

Semoga bermanfaat. Lihat juga blog rekan saya Ir. H. Mohamad Adriyanto, MSM, Sholat Dhuha di Tanah Suci. klik disini

Read More..

Jumat, September 04, 2009

Wukuf, Tamsil Penghisapan Manusia


Secara bahasa Wukuf artinya Berhenti, berdiam diri atau jeda. Wukuf di Padang Arafah merupakan salah satu Rukun terpenting dari rangkaian ibadah haji. Semua jamaah haji diwajibkan berdiam di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar pada 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idhul Adha.

Wukuf merupakan ibadah unik. Keunikannya adalah tidak disyaratkan mesti suci dari hadas bagi semua Muslim yang melakukannya, baik laki-laki maupun perempuan.

Wukuf adalah ibaah puncak dari keseluruhan ritual haji. Sangat vitalnya Wkuf dalam ibadah haji menunjukkan betapa wukuf memiliki makna substansial penuh pelajaran.

Kehadiran jamaah haji di Padang arafah yang tidak bersyarat terhindar dari hadas mempunyai makna semua manusia dari segala golongan nantinya akan berkumpul di Padang Mahsyar saat hari perhitungan (hisab).

Berkumpulnya jamaah di satu lokasi khusus memang sarat dengan simbol-simbol terkait dengan kehidupan manusia. Wukuf adalah refleksi dari pusaran hidup manusia. Arafah menjadi tamsil bahwa nantinya seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-An'am (6) ayat 51, ayat ini mengandung pengertian, semua manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia.

Wukuf mengajarkan setiap Muslim bahwa Allah SWT tidak lalai dan lengah terhadap perbuatan sekecil biji zarrah atau hanya berupa pikiran dan niat dalam hati. Semua terpantau dan tercatat jelas dengan keagungan Allah SWT.

Wukuf merupakan peringatan bagi manusia bahwa Allah SWT adalah tempat kembali semua makhluk pada hari kiamat. Pada hari itu, seluruh hukum dan aturan yang dibuat manusia tidak berlaku kecuali hukum Allah SWT. "Dan dengan hukum inilah Allah SWT membuat perhitungan".

Berdiam diri saat wukuf bukan berarti tidak melakukan apa-apa tanpa makna. Justru saat-saat hening dan tenang hendaknya diisi dengan dzikir, berdoa dan instropeksi diri.

Bagi mereka yang sebelum berhaji masih dilingkupi dengan aktifitas tercela, prosesi wukuf sangat baik untuk dikenang sebagai pengingat kalau Allah SWT pasti melimpahkan rahmat atas perilaku baik manusia dan menurunkan hukuman akibat kelakuan buruk manusia sendiri.

Intinya, Allah SWT tidak memerlukan apa-apa dari kita para hambanya. Kitalah yang harus menunjukkan rasa syukur atas berkah kehidupan yang mulia ini.

Read More..

Kamis, September 03, 2009

Muzdalifah, Persinggahan Syukur


Muzdalifah adalah sebuah tempat yang terletak sekitar delapan kilometer dari Arafah ke arah Mina. Dalam ibadah haji, Muzdalifah memiliki arti sangat penting. Di tempat inilah, para jamaah singgah usai wukuf di Arafah. Mabit (bermalam) dan mengumpulkan batu-batu kecil untuk melempar jumrah adalah kegiatan utama para jamaah dalam persinggahan di Muzdalifah.

Dalam satu riwayat diceritakan, Muzdalifah adalah tempat persinggahan Rasullulah dalam perjalanan dari Arafah ke Mina. Di tempat ini sesudah tengah malam, Rasullulah mendirikan shalat sunah dua rakaat. Untuk menghayati sunah Rasullulah itulah setiap jamaah haji diwajibkan untuk bermalam di Muzdalifah.

Mabit di Muzdalifat adalah kesempatan bagi para jamaah untuk menginsyahfi diri, bersyukur dan berdzikir kepada Allah SWT. Bila ditamsilkan, Arafah adalah tempat manusia menimba pengalaman dan ilmu yang melibatkan hubungan sesama manusia, maka Muzdalifah adalah tempat untuk menyematkan segala pengetahuan dan pengalaman di Arafah ke dalam lubuk jiwa dan hati. "Saat-saat inilah seorang hamba dianjurkan bermunajat kepada Allah SWT." Waktu yang baik untuk menengadahkan hati kita di Muzdalifah adalah sesudah tengah malam.

Masa persinggahan di Muzdalifah bisa juga bermakna betapa pentingnya jeda (break) dalam aktifitas manusia menuju akhir perjalanan yang ditujunya. Walau Allah SWT telah menegaskan manusia adalah makhluk yang penuh kemuliaan dibanding ciptaan Allah SWT lainnya, namun manusia tetaplah zat yang penuh keterbatasan.

Perjalanan dari Arafah menuju Mina adalah perjalanan manusia meraih kebahagiaan duniawi. Di tengah-tengah proses itu, manusia tidak boleh lupa bersyukur atas berkah kehidupan yang indah ini. " Allah SWT tidak melarang manusia mengejar kebahagiaan duniawi, namun sesungguhnya kebahagiaan ukhrawi di akhirat kelak adalah yang utama."

Persinggahan di Muzdalifah seharusnya disadari para jamaah haji betapa kecilnya manusia di hadapan Allah SWT. Selama di Muzdalifah, jamaah diperintahkan berada di luar kendaraan untuk mencari batu-batu kecil. Batu-batu itu adalah simbol bahwa manusia perlu modal dan usaha untuk melanjutkan kehidupan. Lihat juga Blog rekan Saya Ir. H. Mohamad Adriyanto, MSM yang menulis tentang pengalamannya di Muzdalifah saat menunaikan ibadah Haji tahun 2008. Klik disini.

Sumber : Majalah Haji Indonesia 1428 H, Republika - Depag RI

Read More..

blogger templates | Make Money Online